Mendorong Pengembangan Industri Cokelat di Pedesaan Mendorong Pengembangan Industri Cokelat di Pedesaan

Foto: liputan6

  • RAA
  • Minggu, 26 Januari 2025 - 15:27 WIB

Mendorong Pengembangan Industri Cokelat di Pedesaan


Untuk memajukan industri cokelat di pedesaan, petani tidak perlu mengolah biji kakao hingga produk jadi. Melansir mediaperkebunan.id, petani dapat bermitra dengan industri dengan cara menyediakan biji kakao sesuai standar yang dibutuhkan.

Sebagai gantinya, industri dapat menjual sebagian produk setengah jadi, seperti bubuk cokelat (powder), kepada petani atau pelaku usaha pengolahan cokelat di tingkat lokal.

Hal ini disampaikan oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Bioindustri, Bambang, kepada Perkebunannews.com.

Ia menjelaskan bahwa pola kerja sama antara petani dan industri ini memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.

“Industri memperoleh pasar baru, sementara petani bisa mendapatkan bubuk cokelat dengan harga yang lebih terjangkau,” jelasnya.

Bambang juga mengungkapkan bahwa industri pengolahan cokelat setengah jadi, seperti butter dan powder, umumnya lebih fokus pada pasar ekspor.

Harga cokelat butter cenderung lebih tinggi dibandingkan bubuk cokelat, sehingga sebagian besar powder dipasarkan di dalam negeri.


Namun sering kali stok bubuk cokelat berlebih, sehingga akhirnya diekspor dengan harga yang relatif lebih rendah.

Dukungan Pemerintah untuk Hilirisasi Kakao
Lebih lanjut, Bambang menjelaskan bahwa pemerintah, bekerja sama dengan industri, terus memfasilitasi dan membina pengembangan hilirisasi kakao.

Salah satu langkahnya adalah mendorong koperasi dan industri kecil untuk memproduksi cokelat blok, yaitu campuran cokelat, gula, dan susu, yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan baku aneka produk cokelat.

Upaya ini juga melibatkan pengusaha mikro, usaha kecil, serta kelompok wanita tani untuk meningkatkan nilai tambah produk kakao di tingkat lokal.

Menurut Bambang, pendekatan hilirisasi untuk kakao berbeda dibandingkan dengan komoditas perkebunan lain seperti kopi atau kelapa. "Pengolahan biji kakao menjadi pasta, butter, atau bubuk cokelat berkualitas membutuhkan investasi besar untuk pengadaan mesin pengolahan serta biaya operasionalnya," jelas Bambang.

Tantangan dan Inovasi Teknologi
Meskipun sudah ada berbagai teknologi rekayasa yang dikembangkan, seperti yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), pengolahan skala kecil di tingkat petani masih kurang menguntungkan. Hal ini menyebabkan usaha pengolahan cokelat di tingkat petani tidak berkembang secara optimal.

Bambang menekankan bahwa dengan pola kemitraan antara petani dan industri, hilirisasi kakao dapat dilakukan dengan lebih efisien.

Petani dapat fokus pada produksi bahan baku berkualitas, sementara industri menangani pengolahan produk setengah jadi hingga produk siap jual.

Strategi ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat pasar produk cokelat lokal di dalam negeri.