UKM Gula Aren Lebak Tembus Pasar Internasional UKM Gula Aren Lebak Tembus Pasar Internasional

Foto: halodoc

  • RAA
  • Sabtu, 25 Januari 2025 - 12:35 WIB

UKM Gula Aren Lebak Tembus Pasar Internasional


Adin (35 tahun), seorang pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) gula aren asli dari Kabupaten Lebak, Banten, tak pernah menyangka bahwa bisnisnya bisa berkembang pesat pada tahun 2020.

Melansir Republika, Produk unggulan daerahnya ini tidak hanya diminati oleh pasar lokal, tetapi juga berhasil menembus pasar ekspor ke berbagai negara.

Permintaan gula aren dari luar negeri, seperti Singapura, Arab Saudi, Brunei Darussalam, hingga Malaysia, terus meningkat.

Salah satu produk yang paling diminati adalah gula semut atau gula aren bubuk dalam kemasan. “Kami sampai kewalahan memenuhi permintaan dari pasar nasional, apalagi untuk ekspor. Misalnya, untuk permintaan dari Arab Saudi, khususnya hotel-hotel, kami menetapkan minimal dua juta stik gula aren per minggu,” ungkap Adin, Kamis (19/3).

Saat ini, permintaan gula aren mencapai tujuh ton per minggu, atau sekitar 28 hingga 30 ton per bulan. Namun, UKM di Lebak hanya mampu memenuhi sekitar 70 persen dari total permintaan. Adin menjelaskan bahwa keterbatasan ini disebabkan oleh hasil panen gula aren yang masih terbatas.


Hanya lima kecamatan di Lebak yang menjadi sentra produksi gula aren, yaitu Cijaku, Penggarangan, Cihara, Cibeber, dan Cigemblong. “Gula aren dari Lebak memiliki cita rasa yang khas, baik dari segi wangi maupun manisnya. Menurut saya, ini adalah yang terbaik dibandingkan daerah lain,” tambahnya.


Selain keterbatasan hasil panen, Adin juga mengungkapkan kendala dalam proses produksi yang masih menggunakan alat-alat tradisional. Proses pengemasan manual membuat produksi untuk pasar ekspor menjadi kurang efisien. Ia berharap pemerintah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, dapat memberikan bantuan berupa alat pengemasan modern.

“Gula aren adalah salah satu produk unggulan Lebak, dan permintaannya terus meningkat. Produk seperti minuman boba atau olahan gula semut lainnya sedang booming. Kalau kami punya mesin pengemasan, tentu prosesnya akan jauh lebih cepat dan efisien,” kata Adin.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Adin tetap bangga karena produknya telah membawa dampak positif bagi masyarakat lokal, termasuk para petani gula aren.


Ia juga menjelaskan bahwa produk gula aren dari Lebak telah diekspor hingga ke Turki, sekaligus mengenalkan berbagai inovasi, seperti sirup dan permen gula aren.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten terus mendorong pengembangan UKM agar memiliki komoditas unggulan. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Banten, Tabrani, menyebut bahwa produk-produk unggulan dari Banten, seperti sepatu, tas bambu, emping, tas kulit ular, dan jahe, telah berhasil memasuki pasar Eropa, termasuk Prancis, Belanda, dan Australia.

Namun, Tabrani menegaskan bahwa gula aren saat ini menjadi salah satu primadona ekspor dari Banten. “Produk seperti minuman jahe di Cilegon, gula semut di Lebak dan Pandeglang, hingga kerajinan eceng gondok dari Kota Tangerang memiliki potensi besar untuk dipasarkan secara global,” jelasnya.

Pemprov Banten juga telah membantu sekitar 800 UKM untuk memasarkan produk mereka secara daring.

Hingga kini, sebanyak 572 UKM telah berhasil menggunakan empat platform e-commerce, seperti Pesona JNE Express, Bukalapak, Blibli, dan Blanja, untuk memperluas pasar mereka.

Selain itu, Pemprov Banten juga memfasilitasi izin koperasi baru, penerbitan akta notaris, hingga pembiayaan sertifikasi halal bagi produk UKM.


“Kami ingin pelaku UKM di Banten semakin maju dengan memanfaatkan teknologi pemasaran. Ini sekaligus membantu mereka mendapatkan penghasilan yang lebih baik,” tutup Tabrani.