Tepung Sorgum Timurasa Indonesia
Langkah Besar Pemerintah Untuk Mengembangkan Sorgum
Pemerintah tengah merancang langkah besar untuk menjadikan sorgum sebagai salah satu bahan pangan utama di Indonesia. Salah satu langkahnya adalah membuka lahan dalam skala besar untuk pengembangan tanaman ini.
Melansir faktualnews.co, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan hal ini usai menghadiri rapat terbatas mengenai sorgum dan gandum di Istana Merdeka, Kamis.
Lokasi utama yang dipilih untuk pengembangan sorgum adalah Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kelangkaan gandum yang dipicu oleh konflik Rusia-Ukraina.
Sorgum merupakan tanaman serbaguna yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum memiliki potensi besar sebagai alternatif gandum, beras, jagung, dan jelai.
Kandungan gizinya pun tak kalah mengesankan, dengan serat kasar sebesar 6,5%-7,9% dan serat pangan 1,1%-1,23%. Kandungan proteinnya juga hampir setara dengan jagung, yaitu 10,11%, dibandingkan jagung yang mencapai 11,02%.
Tantangan Pengembangan Sorgum
Meskipun sorgum memiliki nilai gizi yang baik, popularitasnya di masyarakat masih kalah dibandingkan dengan jagung dan beras.
Di tengah krisis pangan global, upaya menjadikan sorgum sebagai substitusi gandum dinilai sangat masuk akal. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi untuk merealisasikan rencana ini.
1. Skala Produksi dan Lahan
Pengembangan sorgum membutuhkan luas lahan yang memadai. Wilayah NTT memiliki potensi besar untuk menjadi pusat budidaya sorgum karena kondisi geografisnya cocok untuk tanaman ini.
Sorgum tumbuh baik di daerah dengan ketinggian 0-800 mdpl, suhu 23-30°C, dan curah hujan 372-425 mm per tahun. Selain Waingapu, wilayah lain seperti Flores dan Timor juga memiliki peluang besar untuk ditanami sorgum.
Namun keberhasilan produksi sorgum tidak hanya bergantung pada luas lahan. Mutu hasil panen dan kesinambungan produksi juga menjadi faktor penting.
Pendampingan yang tepat dari pemerintah melalui penyuluh pertanian berkompeten akan sangat membantu para petani dalam meningkatkan kualitas dan hasil panen.
2. Pasar dan Kontinuitas
Tantangan lain adalah memastikan pasar untuk hasil panen sorgum. Pengalaman di Kabupaten Belu dan Malaka pada tahun 2014 menunjukkan bahwa tanpa pasar yang jelas, petani dapat kehilangan semangat. Untuk mencegah hal serupa, pemerintah perlu menyediakan jaminan pasar dan strategi pemasaran yang efektif.
3. Food Estate
Waingapu telah diproyeksikan sebagai lokasi food estate, yaitu kawasan pengembangan pangan terpadu. Namun, Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), mengingatkan bahwa pengelolaan food estate harus diperbaiki agar tidak berujung pada kegagalan, seperti yang terjadi pada beberapa food estate sebelumnya.
4. Arah Pengembangan Sorgum
Sorgum memiliki dua potensi utama, yaitu sebagai bahan pangan dan energi. Pemerintah harus menentukan fokus pengembangan dan mengelolanya secara optimal agar kedua sektor ini dapat berjalan seiring.
Langkah ke Depan
Hingga Juni 2022, total lahan yang ditanami sorgum mencapai 4.354 hektare di enam provinsi, dengan estimasi produksi 3,63 ton per hektare.
Dalam satu kali panen, diperkirakan dapat dihasilkan sekitar 15.243 ton sorgum. Pemerintah merencanakan peningkatan luas lahan hingga 154.000 hektare pada tahun 2024, dengan Waingapu sebagai proyek percontohan.
Jika rencana ini berjalan sesuai harapan, Indonesia akan mampu mengurangi ketergantungan pada gandum impor. Selain itu, sorgum juga dapat mendukung keberlanjutan pangan dan menjadi solusi inovatif dalam menghadapi krisis pangan global.
