Mahasiswa UGM Dukung Pengembangan Sorgum Di Desa Bendung, Gunung Kidul Mahasiswa UGM Dukung Pengembangan Sorgum Di Desa Bendung, Gunung Kidul

Foto: pixabay

  • RAA
  • Jumat, 03 Januari 2025 - 11:35 WIB

Mahasiswa UGM Dukung Pengembangan Sorgum Di Desa Bendung, Gunung Kidul


Sorgum adalah bahan pangan dengan manfaat kesehatan yang signifikan, termasuk mencegah penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh, saraf, endokrin, pencernaan, dan sirkulasi.

Meski demikian, sorgum belum populer di kalangan masyarakat luas dan kalah bersaing dengan padi serta jagung yang telah lama menjadi komoditas utama.

Melansir dari ugm.ac.id, di Desa Bendung, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, banyak warga menanam sorgum, tetapi pemanfaatannya masih terbatas.

Warga setempat belum banyak yang tahu cara mengolah hasil panen sorgum menjadi produk yang bisa dijual atau dikonsumsi secara lebih luas.  

Melihat permasalahan ini, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil langkah kreatif untuk memberdayakan masyarakat Desa Bendung. 


Tim yang dipimpin oleh Luthfita Keysha, bersama anggota lainnya seperti Arlita Tanzila, Elysa Umiati, dan Zahra Raihananda, menginisiasi program pemberdayaan ibu-ibu rumah tangga. 

Program ini mengajarkan mereka cara mengolah sorgum menjadi produk pangan olahan seperti brownies dan cookies, yang memiliki daya tarik tinggi di berbagai kalangan.  

Pemanfaatan Sorgum untuk Produk Olahan
Luthfita menjelaskan bahwa tepung sorgum dapat digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan brownies dan cookies.

Dengan mengganti sebagian tepung terigu dengan tepung sorgum, produk camilan ini tidak hanya lezat tetapi juga lebih bergizi. “Kami melihat potensi sorgum yang memiliki kandungan protein 11-13%, lemak sekitar 3,4%, dan karbohidrat yang setara dengan nasi, menjadikannya alternatif bahan pangan yang sangat potensial,” jelasnya.  

Selain pelatihan pembuatan produk, tim mahasiswa juga memberikan pelatihan pemasaran.

Langkah ini diharapkan membantu ibu-ibu rumah tangga di Desa Bendung, yang tergabung dalam kelompok "Desa Prima," untuk lebih mandiri secara ekonomi.

Dengan cara ini, hasil dari produk olahan sorgum dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi mereka.  

Antusiasme dan Dukungan Warga
Selama program berlangsung, antusiasme ibu-ibu rumah tangga di Desa Bendung sangat tinggi.

Mereka tidak hanya aktif mengikuti pelatihan, tetapi juga berkontribusi memberikan ide-ide kreatif untuk pengembangan program. Keysha berharap produk olahan sorgum ini menjadi ciri khas Desa Bendung.  

Untuk mendukung keberlanjutan program, tim mahasiswa mendorong pembentukan koperasi dan struktur organisasi yang dapat mengelola hasil produksi secara legal.

Salah satu fokusnya adalah mengurus perizinan seperti PIRT untuk produk olahan sorgum. Selain itu, mereka menyerahkan panduan berjudul Mitra Siwi Sorgum (Smart Integrated with Sorghum) sebagai referensi agar pemberdayaan ini terus berjalan dan berkembang.  

Apresiasi Pemerintah Desa
Sekretaris Desa Bendung, Eka Puji, mengapresiasi inisiatif dan dedikasi tim mahasiswa UGM.

Menurutnya langkah ini menjadi awal yang baik untuk mengembangkan potensi sorgum sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. “Kami berharap pembudidayaan dan pemanfaatan sorgum di Desa Bendung terus berlanjut, sehingga potensi lokal ini dapat dioptimalkan,” katanya.  

Dengan program ini, diharapkan sorgum dapat menjadi produk unggulan Desa Bendung, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakatnya.