Gula Aren & Tuak, Tradisi Unik Desa Pedawa Gula Aren & Tuak, Tradisi Unik Desa Pedawa

Foto: kompas

  • RAA
  • Minggu, 29 Desember 2024 - 10:55 WIB

Gula Aren & Tuak, Tradisi Unik Desa Pedawa


Di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, gula aren tidak hanya sekadar hasil bumi untuk dijual.

Dilansir dari baliexpress, Produk ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat, baik sebagai ikon desa maupun elemen penting dalam ritual keagamaan umat Hindu, khususnya banten gula klapa.

Gula aren di Pedawa diolah dari air nira yang berasal dari pohon aren, atau yang di Bali disebut pohon jaka. Pohon ini tumbuh subur di kawasan tersebut dan menjadi sumber mata pencaharian utama bagi warga desa.  

Makna Religius Gula Aren dalam Upacara Hindu
Menurut Wayan Sukrata (67), seorang tokoh adat Desa Pedawa, gula aren memiliki fungsi spiritual yang signifikan, terutama sebagai sarana utama dalam pembuatan banten atau persembahan.

Salah satu banten yang wajib menggunakan gula aren adalah banten Gula Klapa yang terdiri dari bahan seperti gula aren, kelapa, beras, uang kepeng, ketan, daun sirih, dan pinang.  

"Banten ini melambangkan warna merah dan putih, yang merepresentasikan keberanian dan kesucian, serta simbol keharmonisan antara purusa (pria) dan pradana (wanita)," jelas Sukrata.  

Selain itu, gula aren juga digunakan dalam banten daksina, sebuah persembahan khas yang memiliki perbedaan dengan daksina pada umumnya di Bali.

Jika biasanya daksina menggunakan telur itik, di Pedawa bahan tersebut diganti dengan gula aren yang dibungkus daun pisang kering. Gula aren dalam daksina ini melambangkan kebijaksanaan leluhur masyarakat Pedawa.  

Tuak Aren dalam Tradisi dan Ritual  
Selain gula aren, tuak aren juga menjadi unsur penting dalam upacara Hindu di Pedawa. Berbeda dari tradisi umat Hindu di Bali yang biasanya menggunakan arak berem, masyarakat Pedawa lebih memilih tuak nira asli dari desa mereka sebagai bahan utama dalam berbagai ritual, seperti upacara Bhuta Yadnya dan Ngeyehin Karang.

"Ngeyehin Karang adalah ritual khas Pedawa, di mana tuak yeh (tuak dan air) menjadi sarana utama yang digantung pada sanggah cukcuk," ujar Sukrata.  

Tuak aren juga memainkan peran penting dalam Tradisi Saba Malunin di Pura Desa Pedawa.

Dalam tradisi ini, tuak dibawa melalui gerakan tari yang magis dan dipersembahkan kepada Ida Bhatara yang bersthana di Palinggih Patokan.

Sosok Ida Bhatara dipercaya sebagai sumber kekuatan spiritual yang memberikan kesuksesan dalam kehidupan sosial dan religius masyarakat.  

"Tuak aren ini harus berasal dari tanah Pedawa. Selain menjadi simbol kesuburan dan kemakmuran, persembahan ini juga wujud syukur kepada Ida Bhatara," tambah Sukrata.  

Identitas Desa Pedawa
Gula aren dan tuak aren tidak hanya menjadi produk lokal, tetapi juga mencerminkan identitas unik Desa Pedawa. Keduanya memiliki makna mendalam, tidak hanya sebagai komoditas ekonomi tetapi juga sebagai simbol kebudayaan dan spiritualitas yang mengikat masyarakatnya dalam tradisi turun-temurun.