Gula Merah, Gula Aren, Gula Kelapa, Apa Perbedaannya? Gula Merah, Gula Aren, Gula Kelapa, Apa Perbedaannya?

Foto: grid

  • RAA
  • Jumat, 01 November 2024 - 10:26 WIB

Gula Merah, Gula Aren, Gula Kelapa, Apa Perbedaannya?


Di pasar, baik tradisional maupun modern, banyak dijumpai berbagai jenis gula seperti gula merah, gula aren, dan gula kelapa. Meskipun sekilas mirip, ketiganya memiliki perbedaan tersendiri. Apa saja perbedaannya?

Dilansir dari rri.co.id, gula merah berasal dari olahan nira yang dicetak dalam bentuk padat menggunakan tempurung kelapa atau bambu, dan sering juga dikenal sebagai gula Jawa. 

Teksturnya agak padat namun tidak keras, mudah dipatahkan, serta memiliki rasa asam dengan aroma khas. Rasa manisnya merupakan kombinasi dari sukrosa, fruktosa, glukosa, dan maltosa.

Gula merah sendiri memiliki beberapa jenis, tergantung bahan bakunya, seperti gula tebu, gula aren, gula kelapa, dan gula siwalan. 

Namun yang umum ditemui di pasaran adalah gula kelapa yang dicampur dengan gula tebu atau gula pasir, sehingga teksturnya menjadi lebih keras, licin, berwarna lebih terang, dan manisnya terasa lebih sederhana.

Gula kelapa dibuat dari nira pohon kelapa (Cocos nucifera) saja. Ciri khasnya terletak pada rasa yang kaya, tekstur legit, serta aroma gurih yang wangi. Teksturnya lebih empuk saat kering, namun padat dan lengket saat disentuh. 

Dibandingkan jenis gula merah lainnya, gula kelapa memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi, memberikan cita rasa yang kuat sehingga cocok digunakan untuk jajanan pasar, kue basah, maupun hidangan gurih.

Gula aren, yang juga dikenal sebagai Arenga Sugar atau Palm Sugar, berasal dari nira pohon aren atau enau (Arenga pinnata). Walaupun gula kelapa dan gula aren berasal dari pohon palem, keduanya memiliki perbedaan.

Gula aren memiliki kandungan lemak yang rendah, dengan rasa dan tekstur yang lebih lembut dan manis. Oleh karena itu, gula aren sering digunakan untuk minuman seperti kopi, teh, atau minuman kekinian lainnya.

Berbeda dengan gula kelapa, gula aren memiliki sedikit rasa pahit di akhir yang berasal dari kandungan mineralnya. Gula ini juga memiliki karbohidrat yang tinggi, sehingga lebih mudah gosong atau terasa pahit jika dimasak terlalu lama.