BRIN Uji Coba Sinar Gama Pada Sorgum BRIN Uji Coba Sinar Gama Pada Sorgum

Foto: kompas

  • RAA
  • Sabtu, 12 Oktober 2024 - 19:58 WIB

BRIN Uji Coba Sinar Gama Pada Sorgum


Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan uji coba penggunaan sinar gama pada tanaman sorgum untuk memperluas keragaman genetiknya.

Dilansir dari antaranews.com, tujuan uji coba ini adalah memperkaya plasma nutfah dan meningkatkan kualitas varietas tanaman tersebut.

Menurut peneliti dari Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Astuti, paparan sinar gama terbukti memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan benih sorgum varietas Jagung Rote.

"Dalam penelitian ini, digunakan benih sebanyak 20 gram untuk setiap dosis, termasuk kontrol yang tidak diberikan iradiasi. Iradiasi dilakukan dengan menggunakan 10 dosis berbeda, yaitu 100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, 900, dan 1.000 gray," jelasnya dalam pernyataan di Jakarta, Kamis.

Proses iradiasi dilakukan di Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi, yang merupakan bagian dari Organisasi Riset Tenaga Nuklir (PRTPR, ORTN-BRIN), Jakarta.

Setelah proses iradiasi, benih yang disebut M1 kemudian ditanam dan dibiakkan di Rumah Kaca Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Cibinong. Benih yang tidak diiradiasi berfungsi sebagai kontrol untuk perbandingan.

Hasil uji menunjukkan bahwa setelah dua minggu tanam, pada dosis 600 gray, benih sorgum yang diiradiasi tidak lagi menunjukkan proses perkecambahan. Namun, benih varietas KS yang diiradiasi hingga dosis 1.000 gray masih dapat tumbuh dan mengeluarkan daun.

Penanaman varietas SMM menunjukkan hasil yang berbeda, di mana pada dosis 800 gray, benih sudah tidak berkecambah.

"Perbedaan hasil dari tiga varietas, yakni Jagung Rote, KS, dan SMM menunjukkan bahwa setiap varietas memberikan respons fisiologis yang berbeda terhadap paparan sinar gama," ungkap Astuti.

Astuti menambahkan bahwa peningkatan dosis sinar gama juga meningkatkan sensitivitas tanaman terhadap radiasi, yang pada gilirannya mengurangi jumlah hormon pertumbuhan endogen, sehingga menghambat pertumbuhan tanaman.

Penentuan dosis optimum untuk meningkatkan keragaman genetik dapat dilakukan dengan mengamati penurunan pertumbuhan tanaman. Dalam penelitian ini, parameter yang digunakan adalah tinggi tanaman yang tumbuh dari benih M1.

"Dosis optimum untuk meningkatkan keragaman genetik pada tanaman sorgum dapat ditentukan dengan menghitung nilai dosis letal, yaitu jumlah benih yang tumbuh dan tinggi tanaman. Untuk varietas Jagung Rote, rentang dosis optimum yang ditemukan adalah antara 200 hingga 400 gray," jelasnya.

Sorgum, atau Sorghum bicolor L. Moench, merupakan tanaman biji-bijian penting kelima di dunia dari segi produksi dan luas lahan tanam. Tanaman ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap kekeringan dan berpotensi untuk ditanam di lahan marginal.

Selain itu, sorgum juga memiliki banyak kegunaan, seperti bahan pangan, pakan ternak, sumber energi, dan bahan baku industri. Biji sorgum dikenal memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, dengan kadar protein mencapai 11 persen, lebih tinggi dibandingkan beras yang hanya mengandung 6,8 persen protein.

Pada Juni 2022, Presiden Joko Widodo mengunjungi Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, dan menyatakan keinginannya untuk menjadikan sorgum sebagai alternatif pangan nasional. Tanaman ini dinilai menjanjikan karena bebas gluten dan memiliki indeks glikemik yang rendah.