Foto : indonesiatravel
Tradisi Berburu Paus Yang Kini Menjadi Kontroversi
Di pulau Lembata, Indonesia, penduduk desa Lamalera memiliki tradisi tahunan untuk perburuan khusus.
Mulai bulan Mei, para pria mengambil tombak dan mendorong perahu mereka, yang disebut paledang, ke perairan Laut Sawu.
Pulau mereka berbatu-batu, dan hampir tidak ada makanan yang bisa ditanam di tanahnya, sehingga beberapa ratus penduduk desa di sana hampir seluruhnya bergantung pada apa yang disediakan laut, terutama paus sperma yang bermigrasi.
Nelayan disana telah berburu paus selama berabad-abad. Mereka masih melakukannya, sekarang dengan izin dari pemerintah Indonesia, selama itu untuk dimaksudkan konsumsi sendiri dan bukan untuk dijual secara komersial.
Setiap tahun, paus bermigrasi antara Samudra Hindia dan Pasifik di bulan Mei hingga Oktober, ketika hewan laut raksasa ini melewati laut Sabu tepat di depan pintu pulau Lembata. Perburuan paus dimulai pada 1 Mei dan mencapai puncaknya pada bulan Juli.
Ketika perburuan paus diputuskan, sejumlah perahu yang diparkir di pantai dilepaskan dari tempat penampungan sederhana mereka, disemangati oleh seluruh penduduk desa, lalu sekelompok perahu akan berlayar bersama untuk menangkap hasil panen mereka.
Sebelumnya semua orang berkumpul untuk menghadiri misa khusus yang dipimpin oleh pastor Katolik setempat untuk berdoa agar ekspedisi berhasil dan aman. Sebab, mayoritas penduduk di sini beragama Katolik.
Perahu peledang ini diawaki oleh antara 7 - 14 juru mudi, pendayung dan penembak harpun, di mana masing-masing diberi tugas khususnya. Tim yang paling gesit berdiri di atas haluan dengan harpunnya.
Ketika seekor paus atau manta terlihat, penembak harpun melempar tombaknya ke hewan tersebut.
Ketika targetnya adalah ikan paus sperma yang besar, anggota tim yang lain melemparkan lebih banyak tombak ke mangsanya.
Dan ketika akhirnya perburuan selesai, semua anggota tim bersama-sama mengangkat tubuh paus tersebut ke atas perahu.
Ada desa lain yang juga berburu paus dari desa Lamakera di pulau Solor, namun di desa Lamalera lah yang paling terkenal. Selama satu musim perburuan, penduduk pulau dapat menangkap antara 15 hingga 20 ekor ikan paus.
Ada pantangan bagi Lamaleras dalam hal berburu paus. Misalnya, dilarang berburu paus bunting, paus muda, dan paus kawin.
