Bedhaya, Ritual Sakral Lambang Keanggunan Bedhaya, Ritual Sakral Lambang Keanggunan

Foto : okezone

  • RAA
  • Senin, 25 Januari 2021 - 11:08 WIB

Bedhaya, Ritual Sakral Lambang Keanggunan


Bedhaya adalah tarian ritual sakral yang terkait dengan istana kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Sama dengan serimpi, bedhaya melambangkan keanggunan, karakter istana kerajaan, dan tarian tersebut menjadi simbol penting kekuasaan penguasa.


Beberapa jenis tarian wanita yang dikenal sebagai bedhaya sudah ada di Jawa setidaknya sejak Kerajaan Majapahit. 


Memang, beberapa gerakan dari tarian modern dikatakan sudah ada sejak abad ke 3. Namun, bentuk modern secara tradisional berasal dari istana Sultan Agung Mataram (memerintah 1613–1645).


Sayangnya hampir tidak ada bukti sejarah yang mendukung klaim yang dibuat tentang kemajuan seni di istana Sultan Agung, dan keberadaan tarian tersebut tidak terdokumentasi dengan jelas hingga akhir abad ke-18.

Ada banyak mitos yang menjelaskan asal mula tarian tersebut, yang umumny berkisah tentang pertemuan dengan dewa India (Siwa, Brahma, Wisnu, Indra, atau Buddha), atau pertemuan Kanjeng Ratu Kidul, Dewi Laut Selatan, pertemuan dengan pendiri Dinasti Mataram, baik Sultan Ageng atau kakeknya, Senapati. 


Salah satu mitosnya, sembilan penari adalah ciptaan dewa, yang dihidupkan, dan mempersembahkan tarian itu kepada pembuatnya sebagai rasa terima kasih. Tari terakhir diciptakan ketika Kangjeng Ratu Kidul jatuh cinta pada sultan, dan menarikan bedhaya untuknya; kesembilan penari dalam tari modern melambangkan roh dewi.

Sejak penurunan kekuasaan istana, bentuk bedhaya lain yang lebih mudah menjadi populer, bukan sebagai ritual keagamaan, tetapi sebagai pertunjukan artistik.


Bentuk tarian ini tidak membutuhkan kehadiran anggota kerajaan, dan dapat dilakukan di atas panggung dengan biaya masuk. Tarian ini sering menceritakan cerita yang digunakan dalam dunia pewayangan.