Ronggeng, Tarian Dari Masa Jawa Kuno Ronggeng, Tarian Dari Masa Jawa Kuno

Foto : radartasikmalaya

  • RAA
  • Minggu, 24 Januari 2021 - 12:59 WIB

Ronggeng, Tarian Dari Masa Jawa Kuno


Ronggeng merupakan salah jenis tarian Jawa di mana pasangan tari bertukar syair saat mereka menari diiringi musik rebab atau biola dan gong.

Ronggeng mungkin sudah ada di Jawa sejak zaman kuno, relief di bagian Karmawibhanga pada abad ke-8 di Candi Borobudur menampilkan pemandangan rombongan hiburan keliling dengan musisi dan penari wanita.

Di Jawa, pertunjukan ronggeng tradisional menampilkan rombongan tari keliling yang melakukan perjalanan dari desa ke desa.

Pasukan penari terdiri dari satu atau beberapa penari wanita profesional, diiringi sekelompok musisi yang memainkan alat musik rebab dan gong.

Istilah "ronggeng" juga diterapkan pada penari wanita ini. Dalam pementasan ronggeng, para penari profesional wanita diharapkan mengundang beberapa penonton pria atau klien untuk menari bersama mereka berpasangan dengan menukarkan sejumlah uang tip untuk penari wanita, yang diberikan selama atau setelah tarian.

Pasangan tersebut menari dengan mesra dan penari wanita tersebut mungkin melakukan beberapa gerakan yang mungkin dianggap terlalu erotis menurut standar kesopanan dalam etiket keraton Jawa.

Dahulu, nuansa erotis dan seksual pada tarian tersebut membuat ronggeng memiliki reputasi sebagai prostitusi yang tersamar dalam seni tari.

Ronggeng adalah tema utama dalam novel Ahmad Tohari "Ronggeng Dukuh Paruk" yang menceritakan tentang seorang gadis penari yang juga seorang pelacur, di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Ronggeng sangat erat kaitannya dengan tari Jaipongan yang berasal dari Sunda, Jawa Barat.