Foto: pixabay
Sugar High, Mitos Atau Fakta?
Selain alasan kesehatan, banyak orang tua melarang anak-anak mereka makan makanan bergula karena takut sugar rush. Istilah ini merujuk pada kondisi hiperaktif yang diyakini terjadi akibat konsumsi gula berlebihan.
Namun, benarkah gula dapat membuat anak hiperaktif?
Kepercayaan bahwa makanan dapat memengaruhi perilaku berawal pada tahun 1973. Saat itu, pakar alergi Benjamin Feingold, MD, menerbitkan Feingold Diet. Meskipun tidak secara spesifik menyebut gula, pola makan yang dianjurkan Feingold meyakinkan beberapa orang tua bahwa bahan tambahan seperti pemanis buatan sebaiknya dihindari.
Meskipun banyak orang percaya bahwa gula dapat membuat anak hiperaktif, penelitian selama beberapa dekade terakhir belum menemukan bukti yang pasti tentang hal ini.
Salah satu contohnya adalah studi tahun 1994 yang dipublikasikan dalam Journal of Abnormal Child Psychology. Dalam studi ini, para peneliti merekrut 35 anak berusia 5-7 tahun. Mereka kemudian memberi tahu setengah dari ibu partisipan bahwa anak-anak mereka telah mengonsumsi gula, padahal semua partisipan hanya memakan placebo.
Hasilnya, setengah dari ibu yang percaya bahwa anaknya telah mengonsumsi gula melaporkan perilaku yang lebih hiperaktif. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi orang tua dapat memengaruhi penilaian mereka terhadap perilaku anak.
Para peneliti mencatat bahwa ibu-ibu yang yakin anaknya telah mengonsumsi gula cenderung melihat anak mereka sebagai lebih nakal dan lebih sering mengkritik. Peneliti kesehatan anak-anak, Mark Wolraich, menemukan hal serupa dalam studinya terhadap 48 anak yang dibagi dalam kelompok diet tinggi gula dan tinggi pemanis buatan.
Dia menyimpulkan bahwa berdasarkan laporan orangtua, guru, dan peneliti, hanya ada sedikit perbedaan antara kedua kelompok tersebut. Dalam meta-analisis terhadap 23 studi pada tahun 1995, Wolraich juga menemukan kesimpulan yang sama, bahwa gula tidak mempengaruhi perilaku atau performa kognitif anak-anak.
