Bau Nyale, Tradisi Menangkap Cacing Laut Bau Nyale, Tradisi Menangkap Cacing Laut

Foto : merahputih

  • RAA
  • Minggu, 17 Januari 2021 - 14:50 WIB

Bau Nyale, Tradisi Menangkap Cacing Laut


Masyarakat suku Sasak di pulau Lombok memiliki tradisi tahunan yang unik, yaitu penangkapan cacing laut yang dikenal dengan Bau Nyale.

Tradisi tersebut menjadi istimewa dan sakral, karena cacing yang ditangkap Nyale dipercaya sebagai reinkarnasi seorang putri bernama Putri Mandalika.


Nyale (atau disebut Bau Nyale di Lombok) adalah upacara berburu cacing laut untuk menyambut Pasola. 


Biasanya acara ini diadakan sekitar bulan Februari dan Maret. Beberapa ritual yang dilakukan biasanya adalah memotong ayam dan dijadikan ketupat.

Hal ini dikarenakan ritual pasola sangat erat kaitannya dengan kegiatan melihat baik buruknya nasib seseorang yang akan mengikuti Pasola.


Para pemimpin adat atau Rato melihat olahan ayam dan lontong. Jika ayam panggang masih mengeluarkan darah dari ususnya, dan ketupat yang sudah matang ada yang berwarna merah, atau kecokelatan, diyakini ini pertanda buruk.

Pasola yang mendampingi anggota keluarga, akan mengalami bahaya, seperti menderita luka atau bahkan kematian.

Saat malam semakin larut, para Rato bertugas mengamati kemunculan bulan purnama, segera bersiap-siap memakai baju khusus Rato (Atau biasa disebut Rowa Rato).

Ritual ini biasanya dilakukan dengan berdoa di atas kubur batu (kuburan) dan menghadap bulan purnama.


Dengan menghadap bulan purnama, Rato dapat memastikan keakuratan dan posisi bulan, serta keadaan ombak lautan di pantai. 


Dari sana waktunya akan ditentukan Nyale. Begitu Nyale atau cacing laut terlihat, semua warga yang sudah berkumpul sejak subuh, mulai berburu.

Tradisi ini biasanya dilakukan juga oleh masyarakat Bali dan Lombok namun biasanya tidak diiringi oleh Pasola.