Mengembangkan Sorgum Di Buleleng Mengembangkan Sorgum Di Buleleng

Foto: tanamanpangan

  • RAA
  • Sabtu, 25 Mei 2024 - 18:19 WIB

Mengembangkan Sorgum Di Buleleng


Nengah Suparna, seorang warga Buleleng, Bali berusia 52 tahun, mengembangkan sorgum di lahan seluas 2,5 hektare. Dengan telaten, Suparna merawat ribuan batang sorgum yang ia tanam, matanya selalu awas mengawasi, tidak membiarkan burung hinggap dan mencicipi tanaman sorgumnya.

Ladang luas milik Suparna terletak di Desa Ringdikit, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng. Untuk mencapai ladang tersebut, pengunjung harus menggunakan kendaraan roda dua hingga ujung ladang, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ladang sorgum ini tersembunyi dan jauh dari keramaian. Sembari menatap tanaman sorgumnya dengan seksama, Suparna berbisik tentang mimpinya untuk mengembalikan kejayaan sorgum di Buleleng. "Kembali membuatnya menjadi kebanggaan Buleleng," katanya mantap pada Jumat, 24 Mei 2024.

Bagi Suparna, sorgum bukan sekadar simbol yang terdapat pada ikon Singa Ambara Raja, melainkan pangan yang dapat membantu masyarakat menghadapi krisis pangan di masa depan. Di tangan Suparna, ribuan sorgum tumbuh subur, dengan biji sorgum yang sehat dan bulir yang besar.

Suparna telah lama berkecimpung di bidang pertanian, terbiasa menangani jagung, pohon karet, kakao, sawit, hingga padi. Ia mengurus tanaman pangan ini tidak hanya di satu tempat saja, tetapi telah berkeliling ke Lampung, Sampit, Pangkalan Bun, Kendari, hingga Palu. Ia juga pernah bekerja di salah satu perusahaan pertanian ternama di Indonesia.

Namun, pada tahun 2004, Suparna memutuskan untuk pulang ke Buleleng, bertekad mewujudkan mimpinya bertani di kampung halaman. Setelah 18 tahun kembali, ia memutuskan untuk merintis sorgum, menanam dan berhasil panen pada tahun 2022. Dua pemicu utamanya adalah krisis pangan akibat perang Rusia-Ukraina dan perubahan iklim global.

Bagi Suparna, sorgum adalah tanaman ajaib, serupa dengan pohon kelapa karena semua bagiannya bisa dimanfaatkan. Daunnya bisa digunakan sebagai pakan ternak dan bahan kerajinan tangan, batangnya dapat diolah menjadi bioetanol dan sirup, bijinya bisa dijadikan tepung, dan akarnya dipercaya dapat memperlancar peredaran darah. "Sorgum adalah wonder plant," ujar Suparna.

Selain itu, sorgum bisa tumbuh di lahan tidak produktif atau yang tidak bisa ditanami tanaman lain. Di Buleleng atau Bali, banyak lahan yang cocok untuk adaptasi sorgum, dari barat hingga timur. Sorgum juga bisa tumbuh di berbagai jenis tanah, termasuk lahan bekas tambang. Tanaman ini mudah dikembangkan, cukup sekali tanam dan bisa dipanen hingga tiga kali, sehingga lebih ekonomis dibandingkan bertani padi.

Namun, Suparna menghadapi beberapa kendala. "Masalahnya, terkendala benih yang masih terbatas. Petani juga sudah terbiasa dengan padi dan khawatir jika sorgum tidak laku di pasaran," katanya.