Foto: SHUTTERSTOCK/HARISMOYO
Sejarah Awal Mula Wedang Uwuh
Di balik kekayaan kuliner Indonesia, tersembunyi secangkir kehangatan bernama wedang uwuh. Minuman tradisional ini tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang terbentang dari Yogyakarta hingga Surakarta.
Kini, wedang uwuh tak lagi hanya dinikmati di pasar tradisional, tetapi telah merambah ke toko daring, menjangkau penikmat dari berbagai penjuru. Popularitasnya yang baru melejit beberapa tahun terakhir ini tak lantas menghapus jejak sejarahnya yang telah terukir sejak lama.
Wedang uwuh berasal dari Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Keberadaannya tak lepas dari kompleks makam Girirejo Imogiri, tempat peristirahatan Kanjeng Prabu Sultan Agung Hanyokrokusumo dan para leluhur lainnya.
Awalnya, wedang uwuh disajikan untuk para peziarah yang datang ke makam. Konon, rasa capek dan lelah setelah perjalanan panjang akan sirna setelah menenggak secangkir wedang uwuh.
Nama "uwuh" sendiri berasal dari daun cengkih kering yang gugur di tanah pemakaman. Daun ini disapu bersama sampah lainnya, atau "uwuh" dalam bahasa Jawa. Masyarakat Imogiri kemudian menyebutnya wedang uwuh, atau wedang sampah.
Jahe dan kayu secang kemudian ditambahkan untuk menghangatkan tubuh dan mempercantik warna wedang. Rasanya yang khas dan manfaatnya yang menyehatkan menjadikan wedang uwuh semakin digemari.
Asal mula wedang uwuh pun menarik untuk ditelusuri. Konon, minuman ini ditemukan secara tak sengaja dari daun pohon kering yang ditanam oleh Sultan Agung setelah berhasil menyerang VOC di Batavia pada tahun 1628.
Pohon cengkih bernama Kyai Dudo yang ditanam di kompleks makam Imogiri inilah yang menjadi sumber daun cengkih untuk wedang uwuh. Meskipun tak diketahui siapa penciptanya, wedang uwuh pertama kali diperkenalkan secara luas oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Awalnya, wedang uwuh hanya disajikan untuk tamu kraton dan hanya bisa didapatkan di masjid Imogiri. Kini, wedang uwuh telah menjelma menjadi minuman populer yang digemari banyak orang.
