Foto / Ilustrasi: Timurasa Indonesia / Rocky
Mengapa Konsumsi Cokelat Di Indonesia Tergolong Rendah?
Meskipun Indonesia merupakan salah satu negara penghasil cokelat terbesar di dunia selama bertahun-tahun, ironisnya, angka konsumsi cokelat di Indonesia tergolong sangat rendah dibandingkan dengan negara lain, seperti Swiss.
Hal ini disebabkan oleh budaya makan cokelat yang tidak terlalu populer bagi kebanyakan orang Indonesia dibandingkan dengan budaya minum kopi. Selain itu, cokelat dianggap makanan yang mahal bagi sebagian orang Indonesia. Varian produk yang terbatas juga menjadi faktor lain rendahnya konsumsi cokelat di Indonesia.
Penelitian menyebutkan bahwa Indonesia memiliki kakao yang paling beragam di dunia dengan rasa asam, pahit, dan manis.
Perbedaan rasa ini muncul dari cokelat yang ditanam di daerah berbeda. Misalnya, Sulawesi, Bali, Aceh, dan Sumatera yang menjadi provinsi penghasil cokelat terbesar di Indonesia. Cokelat, khususnya dark chocolate dengan kandungan minimal 70% kakao, memiliki beberapa manfaat kesehatan yang telah dibuktikan oleh penelitian.
1. Menjaga Kesehatan Jantung
Cokelat mengandung flavonoid yang dapat meningkatkan aliran darah, menurunkan tekanan darah, dan mencegah pembekuan darah. Hal ini dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke.
2. Meningkatkan Fungsi Otak
Flavonoid dalam cokelat juga dapat meningkatkan aliran darah ke otak, meningkatkan fungsi kognitif, dan meningkatkan memori.
3. Menurunkan Risiko Diabetes
Cokelat dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan kadar gula darah, sehingga dapat membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2.
4. Melindungi Kulit dari Sinar UV
Cokelat mengandung flavonoid yang dapat melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV matahari.
