Benteng Keraton Buton, Mahakarya Arsitektur Indonesia Benteng Keraton Buton, Mahakarya Arsitektur Indonesia

Iustrasi: Timurasa Indonesia / Rocky

  • RAA
  • Rabu, 31 Januari 2024 - 10:42 WIB

Benteng Keraton Buton, Mahakarya Arsitektur Indonesia


Menjelajahi Kemegahan Benteng Keraton Buton: Warisan Budaya Bersejarah di Sulawesi Tenggara
Benteng Keraton Buton, sebuah mahakarya arsitektur berusia ratusan tahun, berdiri kokoh di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Dibangun pada abad ke-15 di bawah kepemimpinan Sultan Buton III, La Sangaji, dan rampung di tahun 1645 pada masa Sultan Buton VI, La Buke, benteng ini menjadi saksi bisu kejayaan Kesultanan Buton di masa lampau.

Berbeda dari benteng lainnya di Indonesia, Benteng Keraton Buton merupakan hasil karya masyarakat pribumi yang tersusun dari batuan karst. Konon, batu-batu tersebut direkatkan dengan campuran putih telur, pasir, dan kapur. Tinggi dan tebal tembok benteng bervariasi mengikuti kontur tanah dan lereng bukit, dengan kisaran ketinggian 1-8 meter dan ketebalan 0,5-2 meter.

Pada tahun 2006, Benteng Keraton Buton diakui oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dan Guinness Book of World Records sebagai benteng pertahanan terluas di dunia dengan luas mencapai 23,375 hektar dan keliling benteng sepanjang 2.740 meter. Berdiri di ketinggian 100 meter di atas permukaan laut, benteng ini menawarkan panorama Kota Baubau yang memukau, termasuk Selat Buton dan Pulau Muna yang menawan.

Di balik kemegahan temboknya, Benteng Keraton Buton menyimpan berbagai situs sejarah berusia hampir setengah abad. Pengunjung dapat menjelajahi lorong-lorong benteng, mempelajari sejarah Kesultanan Buton, dan menikmati pemandangan indah dari ketinggian. Benteng ini menjadi destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi bagi para penjelajah budaya dan pecinta arsitektur kuno.

Benteng Buton juga menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang ikut diabadikan dalam kemasan Kacang Mete Timurasa Indonesia.