Foto : detik
Pacu Jawi, Perlombaan Sapi Tradisional Dari Sumatera Barat
Pacu jawi adalah perlombaan sapi tradisional di Tanah Datar, Sumatera Barat.
Dalam perlombaan, seorang joki berdiri di atas bajak kayu yang diikat longgar pada sepasang sapi jantan dan memegang bajak kayu tersebut di dekat ekor sapi sementara sapi jantan akan berlari sekitar 60–250 meter melewati jalur berlumpur di sawah.
Meskipun pacu jawi berarti "perlombaan pacu sapi" pada dasarnya sapi jantan tidak bersaing secara langsung satu sama lain, dan tidak ada pemenang resmi yang diumumkan.
Sebaliknya, penonton menilai sapi jantan berdasarkan kinerja mereka (kebanyakan kecepatan dan kemampuan mereka untuk berlari lurus), dan membeli sapi jantan yang berkinerja baik dengan harga jauh di atas harga biasanya.
Masyarakat Tanah Datar — terutama para nagari (desa) di empat kabupatennya — telah melakukan tradisi ini selama berabad-abad untuk merayakan berakhirnya panen padi.
Perlombaan tersebut digelar berbarengan dengan festival budaya desa yang disebut alek pacu jawi. Baru-baru ini pacu jawi menjadi objek wisata yang didukung oleh Pemerintah.
Perlombaan ini diadakan bersamaan dengan festival desa yang disebut alek pacu jawi. Selama bertahun-tahun, perayaan tersebut termasuk kontes ternak yang mengenakan suntiang (hiasan kepala tradisional Minangkabau), pertunjukan musik tradisional seperti gendang tasa dan talempong pacik, tari piring, pameran, dan permainan tradisional seperti panjat pinang dan kompetisi layang-layang.
Sebelum adanya keterlibatan pemerintah, semua biaya ditanggung bersama oleh warga desa, namun kini Dinas Pariwisata Kabupaten Tanah Datar memberikan sejumlah dana.
Pacu jawi telah menarik perhatian fotografer nasional dan internasional dan telah menjadi pemenang penghargaan.
Faktor estetika yang terkait dengan acara tersebut diantaranya aksi kecepatan tinggi yang dramatis, percikan lumpur, dan ekspresi wajah serta postur tubuh joki yang khas.
Menambah daya tariknya, Tanah Datar dikenal dengan pemandangan alamnya, antara lain Gunung Marapi, perbukitan, vegetasi hijau tropis, dan persawahan.
Untuk mengambil foto yang bagus, fotografer sering kali harus lebih dekat ke trek daripada di area penonton pada umumnya, dan mereka berisiko basah kuyup oleh lumpur dan harus berhati-hati.
