Fakta Unik Sei Sapi, Makanan Khas Nusa Tenggara Timur Fakta Unik Sei Sapi, Makanan Khas Nusa Tenggara Timur

Foto: mediaindonesia

  • RAA
  • Rabu, 03 Januari 2024 - 19:43 WIB

Fakta Unik Sei Sapi, Makanan Khas Nusa Tenggara Timur


Sei, hidangan daging asap khas Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin populer di berbagai daerah di Indonesia. Daging asap yang diiris ini kini lebih mudah ditemukan di banyak kafe dan restoran di luar NTT.

Apri Johannis Messah, pemilik Casa Blanco Cafe & Resto, mengatakan bahwa sei asli Kupang, NTT memiliki ciri khas tersendiri. Aroma, warna, dan rasa sei bisa berbeda jika tidak menggunakan metode memasak yang sama dengan masyarakat NTT.

1. Awalnya Sei Dibuat Menggunakan Daging Babi
Sei adalah hidangan daging asap yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Sei pertama kali dibuat oleh masyarakat pedalaman NTT dari daging babi hutan. Daging babi hutan memiliki tekstur yang lebih keras dan berminyak, sehingga menghasilkan rasa yang berbeda dari sei sapi.

Seiring perkembangan zaman, sei sapi menjadi semakin populer. Hal ini karena sei sapi lebih halal dan dapat dikonsumsi oleh semua orang, termasuk umat muslim. Sei sapi juga memiliki tekstur yang lebih lembut dan juicy, sehingga lebih disukai oleh sebagian orang.

2. Daging Diasap Dengan Kayu Kosambi
Kayu kosambi merupakan bahan bakar yang paling umum digunakan untuk mengasap daging sei. Kayu ini berasal dari India dan dapat tumbuh di tanah kering. Hal ini menjadikan kayu kosambi cocok untuk tumbuh di daerah Nusa Tenggara Timur yang memiliki tanah tandus.

Kayu kosambi memiliki kandungan arang yang tinggi, sehingga menghasilkan asap yang kuat dan aromatik. Asap ini meresap ke dalam daging sei, sehingga membuat daging menjadi lebih lezat dan beraroma.

Selain itu, kayu kosambi juga memiliki sifat antibakteri. Hal ini dapat membantu mencegah pertumbuhan bakteri pada daging sei, sehingga daging sei menjadi lebih aman untuk dikonsumsi.

3. Terdapat Tambahan Kayu Lamtoro
Proses pembuatan sei khas Nusa Tenggara Timur dimulai dengan menyiapkan tungku yang memiliki tinggi sekitar 80 cm. Tungku ini diisi dengan batang kayu kosambi berukuran besar di bagian bawah dan kayu lamtoro di bagian atas.

Daging sapi yang sudah diiris tipis-tipis kemudian diletakkan di atas kayu lamtoro. Setelah itu, daging ditutup dengan daun kosambi.

Asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu kosambi akan meresap ke dalam daging melalui daun kosambi. Hal inilah yang membuat sei khas Nusa Tenggara Timur memiliki aroma yang khas dan berbeda dari sei yang diproduksi di daerah lain.

4. Dimasak Selama 4 Jam
Proses pengasapan daging sei membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 3-4 jam. Hal ini karena potongan daging sei cukup besar dan suhu asap yang digunakan tidak terlalu tinggi.

Daging sei biasanya dibuat dari potongan daging yang mudah empuk, seperti tenderloin. Potongan daging ini memiliki tekstur yang lembut dan juicy, sehingga cocok untuk diolah menjadi sei.

Mari bergabung berkontribusi kepada para petani lokal Indonesia dengan menjadi reseller produk-produk Timurasa Indonesia. Klik timurasa.com atau login ke Instagram @timurasaindonesia