Foto : grid
Kerupuk Kulit, Varian Kerupuk Tertua Di Indonesia
Kerupuk kulit secara tradisional dibuat dari kulit bagian dalam lembu (sapi atau kerbau) yang lembut, dipotong dadu, dan dijemur sampai mengeras dan mengering sebagian besar kandungan airnya.
Kulit yang dipotong dadu dan kering kemudian digoreng dengan minyak goreng yang cukup panas sampai mengembang dan menghasilkan tekstur yang renyah.
Kulit sapi goreng ini kemudian ditutup dengan kantong plastik vakum untuk memastikan dan memperpanjang kerenyahannya.
Kerupuk rambak atau kerupuk yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau, merupakan varian kerupuk tertua yang disebutkan di Jawa kuno.
Menurut sejarawan kuliner, kerupuk sudah ada di Jawa sejak abad ke-9 atau ke-10, yang tertulis di prasasti Batu Pura sebagai kerupuk rambak, hingga saat ini masih ada dalam masakan Jawa dan biasanya digunakan dalam hidangan krecek.
Kerupuk kulit sering disajikan sebagai camilan renyah untuk menemani santapan utama.
Di restoran Padang kerupuk ini sering ditawarkan sebagai lauk untuk nasi padang atau sate padang, dan sering disajikan dengan bumbu kuah gulai.
Sebagian besar krupuk kulit yang dijual di Indonesia terbuat dari kulit sapi atau kerbau.
Namun, di beberapa daerah dengan populasi non-Muslim yang besar seperti Bali, tanah Batak, dan beberapa Pecinan di Medan dan kota-kota lain, tersedia juga kerupuk kulit babi.
Dibandingkan dengan kerupuk kulit sapi pada umumnya, kerupuk kulit babi memiliki warna yang lebih terang dan lebih mudah hancur. Ada juga yang variannya menggunakan kulit katak.
