Sejarah Cendol, Minuman Yang Sudah Pakai Gula Aren Sebelum Kopi Kekinian Sejarah Cendol, Minuman Yang Sudah Pakai Gula Aren Sebelum Kopi Kekinian

Foto : kompas.com

  • RAA
  • Kamis, 17 Desember 2020 - 10:08 WIB

Sejarah Cendol, Minuman Yang Sudah Pakai Gula Aren Sebelum Kopi Kekinian


Asal usul cendol secara pasti tidak diketahui, tetapi minuman manis ini tersebar luas di Asia Tenggara.

Namun, ada satu dugaan bahwa cendol berasal dari Jawa dengan sebutan dawet. Nama Jawa "dawet" tercatat dalam naskah Serat Centhini Jawa awal abad ke-19, yang disusun antara tahun 1814 dan 1823 di Surakarta, Jawa Tengah.


Seorang akademisi Indonesia berpendapat bahwa minuman manis dawet mungkin telah tercatat dalam naskah Kresnayana, bertanggal dari Kerajaan Kediri sekitar abad ke-12 Jawa.


Di Jawa, dawet mengacu pada ramuan utuh cendol jeli hijau, biasanya dibuat dari sagu aren atau tepung beras, santan, dan gula jawa cair.


Seorang sejarawan Indonesia berpendapat bahwa sagu atau tepung beras mungkin telah digunakan sebagai bahan minuman manis dalam masyarakat pertanian padi di Jawa kuno.

Jeli cendol dan variasinya memang hasil pertanian pedesaan yang masih diproduksi secara tradisional di desa-desa di Jawa.


Di Banjarnegara, Jawa Tengah, dawet secara tradisional disajikan tanpa es. Namun saat ini tambahan es batu atau es serut yang biasanya ditambahkan ke dalam minuman pencuci mulut ini.


Berbeda dengan cendol di Malaysia dan Singapura, di mana berbagai bahan seperti kacang merah manis dan jagung manis bisa dicampurkan.

Dalam tradisi Jawa, dawet atau cendol merupakan bagian dari upacara pernikahan adat Jawa.


Dodol dawet (bahasa Jawa untuk "menjual dawet") dilakukan pada upacara Midodareni, sehari sebelum pernikahan.


Usai siraman, para orang tua akan menjual dawet kepada para tamu dan kerabat yang hadir.


Tamu membayar dawet dengan menggunakan koin terakota yang akan diberikan kepada pengantin wanita sebagai simbol penghasilan keluarga.


Makna simbolisnya adalah sebagai harapan orang tua agar pernikahan besok dihadiri oleh banyak tamu, “sebanyak jeli cendol yang dijual”.