Foto : merdeka.com
Mengenal Tape dan Variannya
Tape adalah olahan beras tradisional yang difermentasi dan biasa dikonsumsi di sebagian besar Asia Tenggara, terutama dalam budaya Austronesia, dan sebagian Asia Timur.
Tape dalam istilah Jawa kuno yang mengacu pada ketela pohon yang difermentasi dan beras yang difermentasi.
Keduanya adalah produk sampingan dari pembuatan minuman keras tradisional. Kata tersebut masuk ke kosakata modern melalui bahasa Indonesia, dengan ejaan yang bervariasi, seperti tape di Jawa dan tapai di komunitas Melayu di seluruh negeri. Di Jawa Barat, istilah Sunda "peuyeum" digunakan.
Tape dibuat dengan mencampurkan tepung beras dengan bumbu halus (diantaranya bawang putih, merica, cabai, kayu manis), gula tebu atau air kelapa, irisan jahe atau ekstrak jahe, dan air untuk membuat adonan.
Adonan dipres menjadi kue bundar, berdiameter sekitar 3 cm dan tebal 1 cm, dan dibiarkan diinkubasi di atas nampan dengan daun pisang di bawah dan di atasnya selama dua hingga tiga hari.
Kemudian dikeringkan dan disimpan.
Tape dan variannya biasanya dikonsumsi sebagai camilan manis beralkohol ringan, untuk menemani minum teh di sore hari.
Namun tapai yang difermentasi manis, sering digunakan sebagai bahan dalam resep masakan tertentu.
Peuyeum singkong sunda merupakan bahan utama pembuatan colenak; tape singkong panggang yang difermentasi disajikan dengan kinca, sirup manis yang terbuat dari kelapa parut dan gula aren cair.
Varian lainnya ada yang disebut dengan tape uli. Ini adalah balok ketan atau pulut (nasi ketan) panggang yang disajikan dengan tapai ketan manis atau tapai pulut.
Peuyeum goreng atau tapai goreng, atau dikenal dalam bahasa Jawa sebagai rondho royal adalah contoh lain dari gorengan Indonesia, yaitu tapai singkong yang digoreng.
Dalam minuman, tapai, baik singkong atau beras ketan, bisa ditambahkan ke dalam minuman es manis, seperti es campur dan es doger.
