Foto : sipayo.com
Bukan Pupuk Biasa, Pupuk Dalam Kebudayaan Sumatera Utara Ini Memiliki Kekuatan Magis
Pupuk adalah sebutan untuk zat magis yang digunakan oleh dukun Batak di Sumatera Utara.
Pupuk adalah ciri utama untuk ilmu hitam, misalkan untuk memberikan hal yang negatif pada musuh. Cara pembuatan pupuk tertera di pustaha, kitab sakti masyarakat Toba.
Orang Batak di Sumatera bagian utara sangat terkenal karena kekayaan dan keragaman seni ritual mereka.
Orang Batak percaya bahwa arwah orang mati dapat mempengaruhi nasib kerabat mereka yang masih hidup, sebuah kepercayaan yang dianut oleh banyak suku animisme proto-Melayu di Indonesia.
Untuk mendapatkan bantuan dari roh leluhur, orang Batak melakukan ritual atau pengorbanan yang rumit.
Pengetahuan tentang ritual gaib ini terkandung dalam sebuah buku yang dikenal sebagai pustaha.
Pustaha diciptakan dan digunakan oleh ahli spiritual Batak yang dikenal sebagai guru oleh orang Karo atau datu oleh orang Toba.
Ilmu gaib dalam pustaha dikenal sebagai hadatuon (secara harfiah berarti "ilmu datu"). Menurut Johannes Winkler (1874-1958), seorang dokter Belanda yang dikirim ke Toba pada tahun 1901 dan mempelajari pustaha dari seorang datu bernama Ama Batuholing Lumbangaol, ada tiga jenis ilmu sihir dalam pustaha: seni menopang kehidupan (putih) dan seni menghancurkan kehidupan (ilmu hitam), dan seni divinatio.
Untuk membuat pupuk, pertama datu harus menculik bayi laki-laki dari kampung musuh.
Sang datu kemudian membesarkan anak yang diculik dengan hati-hati agar anak tersebut setia kepada datu tersebut.
Kemudian sang datu harus menyuruh anak itu meminum timah mendidih yang dicairkan. Anak itu akan segera mati.
Tubuh anak kemudian dicincang dan dicampur dengan bahan lain misalkan daging hewan.
Campuran tersebut kemudian dibiarkan membusuk. Cairan yang keluar dari campuran yang membusuk dikumpulkan dan ditempatkan ke dalam guri-guri (semacam cangkir).
Bahan sisa dibakar sampai menjadi abu. Abu ini disebut pupuk.
Arwah anak yang terbunuh menjadi pangulubalang, sejenis arwah yang bisa dikendalikan untuk banyak kegunaan.
Salah satu kegunaan pupuk adalah untuk menghidupkan patung leluhur (debata idup) yang biasa ditanam di tanah sekitar desa.
Sebuah patung bisa "diisi" dengan pupuk satu hingga tiga kali, yang membuatnya lebih kuat.
Patung yang diisi pupuk juga dikenal sebagai pangulubalang. Patung pangulubalang dapat melindungi desa atau bahkan menghancurkan musuh.
