Foto : todocoleccion.net
Ritual dan Tradisi Naga Morsarang Yang Tidak Banyak Diketahui Secara Luas
Naga morsarang atau yang juga dikenal dengan sahan merupakan wadah yang digunakan untuk menyimpan obat dalam budaya masyarakat Toba Sumatera Utara, Indonesia. Naga morsarang terbuat dari tanduk kerbau.
Naga morsarang adalah salah satu dari beberapa jenis wadah tempat datu (ahli ritual masyarakat Batak) menyimpan ramuan yang berkhasiat supranatural.
Naga morsarang besar berukuran panjang 52 cm dan lebar 26,0 cm. Sebagai wadah ramuan yang ampuh, naga morsarang dihias secara ekstensif dengan pola yang rumit.
Permukaan luarnya juga diiris secara menyeluruh dengan desain yang rumit. Ujung tanduk yang runcing diukir menjadi bentuk sosok pria yang sedang duduk.
Banyak gambar tambahan kadang-kadang diukir seperti kadal Boraspati ni Tano, sesosok manusia, atau beberapa sosok manusia.
Sosok manusia ini mungkin mewakili datu, pemilik naga morsarang, dan mantan datu atau mantan pemilik naga morsarang.
Orang Toba percaya bahwa roh orang mati dapat mempengaruhi nasib orang yang masih hidup.
Untuk mendapatkan bantuan dari roh, suku Toba melakukan ritual atau pengorbanan yang rumit dengan bantuan datu, seorang ahli ritual laki-laki yang bertindak sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia supernatural.
Datu itu menciptakan buku-buku sihir yang dikenal sebagai pustaha yang digunakan olehnya dan oleh murid-muridnya sebagai referensi untuk ritual sihirnya.
Di antara isi pustaha adalah metode membuat berbagai jenis ramuan yang digunakan untuk ilmu putih dan ilmu hitam dalam sejenis ritual sihir yang rumit. Naga morsarang digunakan sebagai wadah untuk ramuan tersebut.
Salah satu contoh ramuan ajaib putih adalah pagar, ramuan yang digunakan sebagai semacam jimat untuk melindungi dari kejahatan.
Pembuatan pagar sangat sulit, dan hanya bisa dilakukan pada hari-hari keberuntungan tertentu.
Pagar kebanyakan berasal dari tumbuh-tumbuhan, meskipun kadang kepala ayam, isi perut, dan bulunya termasuk dalam campuran.
Bahan untuk untuk pagar hanya bisa dikumpulkan di tempat suci tertentu yang disebut sombaon.
Pembuatan pagar membutuhkan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu. Semua bahan itu kemudian dimasak dan ditumbuk halus menjadi semacam pasta yang kemudian disimpan di dalam naga morsarang.
