Foto : triplaketoba.com
Sigale-gale : Tradisi Klasik Pulau Samosir Yang Menjadi Salah Satu Daya Tarik Wisatawan
SiGale-Gale adalah boneka kayu yang digunakan dalam pertunjukan tari pemakaman orang Batak di Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Sigale Gale adalah salah satu kebudayaan terkenal di Samosir yang menjadi tujuan objek wisata.
Selama menari, wayang digerakkan dari belakang menggunakan senar yang dipasang di atas panggung kayu berornamen.
Set up khusus memungkinkan lengan dan tubuhnya untuk digerakkan dan kepalanya untuk berputar.
Jika seseorang meninggal tanpa anak, si gale-gale dibuat sebagai penggantinya. Sigale gale yang berkualitas bisa berukuran seperti aslinya dan menampilkan aktuasi menggunakan lumut basah atau spons yang bisa diperas untuk membuat boneka tampak menangis.
Boneka kayu ini menari selama upacara penguburan yang disebut papurpur sepata, diadakan untuk orang-orang berpangkat tinggi yang meninggal tanpa keturunan.
Ritual tersebut menghilangkan kutukan kematian tanpa anak, dan menenangkan jiwa almarhum sehingga dia tidak akan merugikan masyarakat.
Penggunaan sosok si gale-gale konon berasal dari legenda seorang wanita tanpa anak bernama Nai Manggale.
Yang di hari kematiannya menginstruksikan suaminya untuk membuat sosok seukuran dirinya yang akan disebut si gale-gale dan membuat sebuah nyanyian dinyanyikan sebelumnya.
Jika ini tidak dilakukan, arwahnya tidak akan dimasukkan ke kediaman orang mati, yang pada akhirnya akan memaksanya untuk mengutuk pasangannya yang masih hidup.
Untuk mencegah kemalangan ini, si gale-gale diciptakan. Tokoh si gale-gale adalah laki-laki atau perempuan, tergantung jenis kelamin almarhum.
Salah satu referensi paling awal tentang si gale-gale berasal deskripsi misionaris Jerman Johannes Warneck tentang penggunaan patung/boneka tersebut pada awal abad ke-20.
Ketika seorang kaya meninggal tanpa anak laki-laki yang masih hidup, kerabatnya mengadakan pesta khusus untuk meratapi kematiannya dan untuk menunjukkan kekayaannya.
Untuk pesta ini, sebuah patung kayu yang mirip dengan almarhum ditugaskan dan mengenakan kostum tradisional, dengan selendang, hiasan kepala, dan perhiasan emas.
Dipasang di atas platform beroda dan dimanipulasi oleh sistem yang rumit, sosok itu menari sementara istri, orang tua, dan saudara laki-laki almarhum menari bersama sambil menangis.
