Tidak Hanya Dalam Bentuk Boneka, Budaya Wayang Juga Ada Versi Manusia Tidak Hanya Dalam Bentuk Boneka, Budaya Wayang Juga Ada Versi Manusia

Foto : materibelajar.co.id

  • RAA
  • Rabu, 04 November 2020 - 12:55 WIB

Tidak Hanya Dalam Bentuk Boneka, Budaya Wayang Juga Ada Versi Manusia


Wayang wong, juga dikenal sebagai wayang orang (secara harfiah berarti "wayang manusia"), adalah jenis pertunjukan teater tari klasik Jawa dengan tema yang diambil dari episode Ramayana atau Mahabharata. Pertunjukannya bergaya dan mencerminkan budaya istana Jawa.

Meski sangat erat kaitannya dengan tradisi Jawa, varian drama tari wayang wong juga dapat ditemukan pada tradisi daerah lainnya, seperti dalam tradisi Bali dan Sunda.


Panel relief candi Prambanan abad ke-9 menampilkan episode-episode epik Ramayana.

Adaptasi episode Mahabharata telah diintegrasikan dalam tradisi sastra Jawa sejak era Kahuripan dan Kediri, dengan contoh-contoh terkenal seperti Arjunawiwaha, yang digubah oleh Mpu Kanwa pada abad ke-11.


Candi Penataran di Jawa Timur menggambarkan tema-tema dari Ramayana dan Mahabharata dalam relief dasarnya.


Drama tari Jawa yang terkait dengan tema epik wayang dari Ramayana dan Mahabharata mulai berkembang saat itu.

Wayang dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno) berarti "bayangan" dan wong berarti "manusia".


Wayang wong adalah pertunjukan dalam gaya wayang kulit (teater bayangan Jawa Tengah) di mana aktor dan aktris mengambil peran wayang.


Referensi tertulis pertama tentang bentuk tersebut ada di prasasti batu Wimalarama dari Jawa Timur tertanggal 930 M.

Wayang wong sangat erat kaitannya dengan budaya Jawa. Awalnya, pertunjukan ini hanya sebagai hiburan bagi bangsawan di empat keraton Yogyakarta, Pakualaman, Surakarta dan Mangkunegaran.

Seiring waktu, budaya ini menyebar menjadi bentuk yang populer hingga digemari oleh rakyat.

Pertunjukan wayang wong Jawa secara rutin dipentaskan di panggung terbuka Trimurti Ramayana di kompleks Candi Prambanan seperti Sendratari Ramayana, Balai Budaya Purawisata di Yogyakarta, Taman Sriwedari di Solo, dan juga Ngesti Pandawa di Semarang.

 

 


Foto : pelajaran.co.id