Pulau Alor, Bumi Kenari Yang Terus Berkembang Pulau Alor, Bumi Kenari Yang Terus Berkembang

Foto / Ilustrasi: Timurasa Indonesia / Rocky

  • RAA
  • Sabtu, 19 Maret 2022 - 12:09 WIB

Pulau Alor, Bumi Kenari Yang Terus Berkembang


Pulau Alor disebut sebagai Bumi Kenari, demikian banyak orang menyebutnya. Alor merupakan wilayah yang ditumbuhi ribuan pohon kenari secara alami sejak dahulu kala. Diduga pohon kenari tertua sudah berusia 100-200 tahun. Pohon kenari juga dijadikan sebagai salah satu penanda area oleh nenek moyang orang Alor apabila mereka berpergian ke wilayah lain.

Meskipun merupakan penghasil kenari, pada awalnya masyarakat tidak menjadikan kenari sebagai komoditas utama. Bahkan mayoritas masyarakat tidak mengetahui bahwa kenari dapat diolah menjadi berbagai macam produk makanan. Kelestarian kenari juga sempat terancam dengan banyaknya penebangan liar oleh oknum masyarakat. Penebangan liar ini dilakukan dikarenakan pemakaian pohon kenari sebagai bahan bangunan. Selain itu, kondisi alam juga menjadi ancaman bagi kelestarian kenari. Sejumlah pohon kenari diberitakan sempat tumbang akibat terjangan badai pada April 2021 lalu.

Kedatangan Timurasa Indonesia dan Wahana Visi Indonesia (WVI) membuat kenari menjadi lebih dikenal dan dimanfaatkan sebagai salah satu komoditas pangan. Timurasa Indonesia dan WVI memberdayakan komunitas lokal serta memberikan pemahaman tentang kenari serta pengolahannya hingga menjadi produk-produk makanan seperti selai, biskuit, hingga gelato atau eskrim.

Upaya mendekatkan dengan akses pasar juga diberikan dengan Program Kebutuhan Multipihak Fase 4 (MFP4). Program kerja sama Pemerintah Inggris dengan Indonesia sejak tahun 2000. Program ini mengedepankan pendekatan market accsess player dan melakukan inkubasi pada mitra kerjanya untuk membantu pelaku usaha hutan dapat berkembang lebih cepat.

Sejak menjalin kemitraan dengan masyarakat, penjualan kenari alor semakin meningkat. Data WVI menyebutkan, sejak Maret 2019 hingga Juni 2021, Alor telah berhasil menjual lebih dari 5000 kg kenari kepada berbagai mitra termasuk Timurasa Indonesia. Koordinator Kelompok Perempuan Kenari Desa Nailang Veronika Asafa mengatakan bahwa sebelum bermitra dengan Timurasa Indonesia, masyarakat Alor hanya dapat menjual utuh buah kenari seharga Rp.15.000-Rp.25.000 per kg. Setelah menjalin kemitraan, masyarakat dapat menjual hingga mencapat Rp.75.000/kg.

Dengan dukungan dana desa, diharapkan Alor dapat terus mengoptimalkan kapasitas produksi dan mendorong usaha lokal

Dapatkan kacang kenari dari Timurasa Indonesia di marketplace kesayangan anda, klik link berikut ini: