Foto : travistory
Mengenal Lebih Dalam Budaya Dan Filosofi Rendang
Saat pertama kali dimasak, rendang tidak dianggap sebagai hidangan sehari-hari. Hidangan ini hanya disediakan untuk upacara adat yang paling penting, dan kuliner ini disebut sebagai kepalo samba artinya lebih dihargai dan dihormati daripada makanan lain dalam budaya Minangkabau.
Diyakini bahwa rendang telah ada di atas meja sejak ritual pertama masyarakat Minang, termasuk penobatan, pernikahan, dan acara adat penting lainnya. Hingga saat ini, rendang masih menjadi salah satu hidangan wajib jamuan perayaan lebaran.
Rendang sangat populer bahkan ada upacara adat untuk itu bernama marandang (membuat rendang).
Tradisi menghimpun ibu-ibu rumah tangga (Minangkabau adalah masyarakat matrilineal) menjalani seperangkat adat guna menyiapkan rendang yang layak, mulai dari membeli bahan hingga menunggu proses masak yang bisa berlangsung lebih dari delapan jam.
Setelah itu, para orang tua berkemas dan mengirimkan rendang kepada anak dan kerabatnya yang sedang merantau ke tempat lain.
Dalam dialek lokal Minang, rendang atau randang berarti 'perlahan', kata yang paling tepat menggambarkan proses memasaknya yang metodis dan memakan waktu yang lama.
Dari memilih daging yang paling ideal, mengumpulkan semua enam belas bumbu, menyiapkan bahan, diikuti dengan proses memasak hingga berjam-jam dengan api kecil hingga santan mengering.
Terkadang selama marandang orang tua menggunakan kesempatan ini untuk mengajari putri mereka tentang kesabaran, kebijaksanaan dan ketekunan: tiga hal penting yang dibutuhkan untuk mencapai rendang yang sempurna.
Rendang yang lezat juga mewakili seluruh masyarakat Minangkabau. Empat bahan utama melambangkan satu bagian penting dari komunitas.
Daging (biasanya daging sapi atau kerbau) melambangkan Niniak Mamak, atau pemimpin adat, bangsawan, dan sesepuh. Inilah orang-orang yang menjaga masyarakat, menjunjung tinggi tradisi, dan menjaga ketertiban.
Santan melambangkan Cadiak Pandai, atau cendekiawan masyarakat - guru, penyair, penulis, akademisi. Kelompok ini memiliki pengaruh tersendiri terhadap masyarakat - mereka membawa kearifan dan seni untuk melembutkan dan mengangkat semua orang.

Foto : liputan6
Cabai yang menjadi salah satu bahan penentu rendang yang baik mewakili para ulama atau pemuka agama. Pedasnya menggambarkan hukum Syariah.
Campuran rempah-rempah adalah bagian masyarakat lainnya - dinamis, beragam, dan masing-masing menyampaikan rasa berbeda yang berdampak pada seluruh komunitas.
Menurut filosofi ini, semua unit masyarakat hidup berdampingan dan saling mengangkat: berkomunikasi dan berinteraksi untuk memecahkan masalah dan meningkatkan kualitas kehidupan. Hubungan produktif antaranggota komunitas ini disebut musyawarah.
Lain kali Anda menikmati seporsi hidangan tradisional yang lezat ini, nikmati dengan apresiasi baru terhadap budaya dan nilai-nilai yang dimasukkan ke dalam resepnya.
