Foto: artnet / Walter Spies: Javanese Returning Home, 1924
Walter Spies, Pelaut Jerman Yang Mempopulerkan Kebudayaan Indonesia Ke Mata Dunia
Walter Spies, adalah seorang pelukis dan musisi yang sangat berbakat, pada tahun 1923 dia bekerja sebagai pelaut dan melakukan perjalanan melalui Jawa ke Bali dan menetap pada tahun 1927. Disanalah, dia menciptakan lukisan-lukisan fantastis dan menjadi pusat perhatian seniman dan selebriti seperti Charlie Chaplin dan Vicky Baum.
Spies dapat memainkan semua jenis gamelan, dan ia mulai bereksperimen dengan perpaduan musik Indonesia dan Eropa. Pada satu titik ia menyetem dua piano dalam sistem tuning Jawa dan mengatur pertunjukan di mana dua penyanyi Indonesia akan mengawali pertunjukan dengan iringan gamelan, kemudian dengan dua pianonya, dan akhirnya dengan gamelan sekali lagi. Pertunjukan berjalan sukses. Namun Spies masih diliputi keraguan tentang keakuratan karyanya dalam merepresentasikan musik gamelan Jawa, dan ia menolak untuk mengizinkan karya-karya hibridanya diterbitkan.
Melanjutkan karir melukisnya, Spies memamerkan beberapa karya barunya pada tahun 1925 di sebuah pertunjukan kelompok di kota Surabaya, Jawa Timur. Karya-karya barunya yang kompleks menunjukkan pengaruh lingkungan barunya dan seni Asia secara lebih umum. Heimkehrende Javaner (Javanese Returning Home, 1924) menunjukkan sekelompok petani pulang ke rumah dengan peralatan mereka di latar depan lanskap pegunungan yang berlapis-lapis. Bertekad untuk mengabdikan penuh waktu untuk seni dan untuk menembus lebih dalam esensi budaya Indonesia, Spies pindah dari Yogyakarta ke pulau Bali pada tahun 1927. Di antara pulau-pulau besar di Indonesia, Bali adalah yang paling sedikit terpengaruh oleh penjajahan Belanda. Kegiatan seni adalah pusat dari budaya itu, karena seni dan musik bagi orang Bali merupakan kegiatan yang dilakukan kebanyakan orang pada saat relaksasi.

Foto: pinterest / Walter Spies: The Landscape & The Children
Ketika Jerman menginvasi Belanda segera setelah pecahnya Perang Dunia II, beberapa warga negara Jerman di Hindia Belanda ditangkap. Spies ditahan selama 20 bulan di kamp-kamp interniran di Jawa dan Sumatra. Disana ia sesekali bisa melukis dan mempelajari musik yang dikirimkan oleh kerabatnya. Tetapi pada awal tahun 1942 ia ditempatkan di kapal pengangkut menuju Ceylon. Sehari setelah meninggalkan Sumatera, pada 19 Januari 1942, kapal tersebut dihantam bom Jepang di lepas pantai Pulau Nias, dan awak kapal Belanda meninggalkan kapal tanpa membebaskan tawanan Jermannya. Spies tenggelam bersama tahanan lainnya. Lukisan Spies pernah terjual lebih dari $ 1.000.000 dalam lelang seni pada awal 2000-an.
