Tari Ledo Hawu, Tarian Tradisional Tentang Upacara Kematian Tari Ledo Hawu, Tarian Tradisional Tentang Upacara Kematian

Foto: cintaindonesia

  • RAA
  • Senin, 02 Agustus 2021 - 10:24 WIB

Tari Ledo Hawu, Tarian Tradisional Tentang Upacara Kematian


Tari Ledo Hawu merupakan tarian tradisional dari daerah Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tarian ini biasanya akan dibawakan oleh penari pria dan wanita secara berpasangan. Tari Ledo Hawu merupakan salah satu tarian tradisional yang sangat terkenal di Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya di daerah Sabu sebagai daerah asalnya.


Tari Ledo Hawu biasanya ditampilkan dalam berbagai acara seperti upacara adat, penyambutan dan pada festival budaya. Tari Ledo Hawu merupakan tarian tradisional yang berasal dari daerah Sabu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada zaman dahulu, tarian ini hanya ditampilkan sebagai bagian dari upacara kematian bagi orang-orang tertentu seperti bangsawan, pemimpin adat, atau kepala suku.

Karena merupakan tarian yang dianggap sakral, maka tarian ini hanya dibawakan oleh penari dari suku tertentu yang memiliki kedudukan tertinggi dalam masyarakat Sabu. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Tari Ledo Hawu pada awalnya hanya digunakan sebagai bagian dari ritual kematian bagi seseorang dari kalangan tertentu.


Bagi masyarakat Sabu, Tari Ledo Hawu dilakukan untuk menjauhkan diri dari roh jahat atau menolak bala bantuan dan mengantarkan arwah yang telah meninggal ke tempat pertapaan abadi. Selain itu, Tari Ledo Hawu dimaksudkan untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan agar tidak larut dalam duka.

Dalam pertunjukannya, tari Ledo Hawu biasanya ditampilkan secara berkelompok atau berpasangan antara penari pria dan wanita. Jumlah penari biasanya terdiri dari 3 hingga 5 orang, artinya 3 hingga 5 penari pria dan 3 hingga 5 penari wanita. Mengenakan sabu tradisional dan diiringi musik tradisional, mereka akan menari dengan gerakan yang sangat khas.

Dalam pertunjukannya biasanya akan dilakukan dalam 6 babak. Yang pertama diawali dengan masuknya para penari yang masuk ke dalam arena secara terpisah antara pria atau wanita ke tengah arena dan membuat formasi melingkar.


Kemudian babak kedua dilanjutkan dengan formasi berpasangan antara penari pria dan wanita. Para penari pria akan berdiri sambil memainkan pedang, sedangkan para penari wanita akan merendah sambil mengayunkan tangan ke depan dan juga ke belakang secara bergantian.


Setelah babak ketiga, tahap ini penari pria dan wanita akan membentuk barisan, penari pria akan menari dengan memainkan pedang, sedangkan penari wanita akan menari dengan gerakan tangan kanan yang memegang sarung dan tangan kiri diletakkan di pinggang. Kemudian ronde keempat, dirajut dengan membentuk lingkaran, penari wanita akan merendah lagi dengan gerakan yang sama seperti sebelumnya dan penari pria akan melompat masuk dan juga kembali turun lagi.

Setelah ronde kelima, para penari wanita ke tepi arena akan membentuk lingkaran dan kemudian merendah dengan gerakan yang sama sambil menyaksikan para penari pria yang sedang berperang. Setelah peperangan selesai maka babak terakhir, para penari akan berbaris dan keluar arena dengan gerakan yang sama seperti saat memasuki arena.

Tari Ledo Hawu biasanya akan diiringi oleh alat musik tradisional seperti gong dan juga tabur. Untuk alat musik gong pada umumnya terdiri dari beberapa gong yang dimainkan secara bergantian sehingga akan menghasilkan nada yang indah. Sedangkan tarbur dimainkan dengan melengkapi suara gong sehingga akan menghasilkan irama musik yang enak didengar.