Foto : naviri
Menari Sambil Kesurupan? Di Indonesia Memiliki Budaya Ini..!!
Kuda Lumping atau dalam Bahasa Jawa disebut Jaran Kepang adalah tarian tradisional Jawa yang menggambarkan sekelompok penari "menunggangi" kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan dihiasi cat serta kain warna-warni.
Umumnya, tarian ini menggambarkan pasukan sedang menunggang kuda, tetapi jenis pertunjukan Kuda Lumping yang lain juga menyertakan ritual kesurupan dan menunjukkan kekebalan terhadap benda tajam dan bara api.
Ketika penari yang "kesurupan" ini menampilkan tarian dalam kondisi kesurupan, ia dapat menunjukkan kemampuan yang tidak biasa, seperti makan gelas dan tahan terhadap pecutan cambuk atau bara panas.
Asal usul Kuda Lumping tidak diketahui secara pasti. Ada Dua hipotesis yang telah muncul, yang pertama menunjukkan bahwa Kuda Lumping mungkin muncul dari perang Diponegoro melawan pasukan kolonial Belanda, sebagai pemeragaan ritual pertempuran.
Yang kedua berpendapat bahwa kuda lumping didasarkan pada pasukan era Mataram yang melawan Belanda.
Kuda Lumping dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah. Sedangkan Kuda Lumping adalah nama yang paling umum di Jawa Barat, di Jawa Tengah dikenal sebagai Jaran Kepang atau Jathilan di Jawa Timur, sedangkan di Bali, tarian ini dikenal sebagai Sang Hyang Jaran.
Dalam tari Sanghyang Bali mengacu pada jenis tarian yang melibatkan kesurupan oleh roh yang diidentifikasikan sebagai hyang.
Kuda Lumping dapat dilakukan untuk merayakan acara khusus, seperti sunat anak laki-laki atau ritual peralihan. Tarian ini juga dapat dilakukan sebagai hiburan, dengan gaya pengamen.Biasanya dilakukan di area tertutup, dengan penonton terpisah dari penari.
Kuda Lumping secara tradisional dilakukan oleh sekelompok pria yang berasal dari masyarakat setempat; kelompok ini dapat berjumlah dari dua sampai delapan orang.

Foto : ayosurabaya
Para pemain menunggangi kuda rotan dan menari sambil memainkan alat musik tradisional seperti angklung, gong, dan genderang.
Pertunjukkan ini mencapai puncaknya ketika seorang penari memasuki kondisi kesurupan, yang secara tradisional dikatakan disebabkan oleh kerasukan roh.
Dalam Sang Hyang Jaran, penonton dapat berpartisipasi dengan membentuk paduan suara dan bernyanyi.
Saat kesurupan, penari ini makan rumput atau minum air, sementara pemain lain atau dukun menggunakan cambuk untuk mengarahkan mereka.
Dalam beberapa pertunjukan, penari yang kesurupan bisa berjalan di atas bara api atau memakan gelas atau api.
