Tari Padoa, Tarian Tradisional Dari Sabu Tari Padoa, Tarian Tradisional Dari Sabu

Foto: cintaindonesia

  • RAA
  • Jumat, 25 Juni 2021 - 19:31 WIB

Tari Padoa, Tarian Tradisional Dari Sabu


Tari Padoa adalah tarian tradisional dari daerah Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tarian ini biasanya dilakukan secara masal baik laki-laki maupun perempuan, mereka berkumpul dan menari dengan membentuk formasi melingkar yang menjadi ciri khasnya.

Tari padoa merupakan tarian tradisional yang turun temurun di masyarakat Sabu dan masih sering dilakukan hingga sekarang.

Tari Padoa dulunya merupakan tarian ritual tradisional yang dibawakan oleh masyarakat Sabu, yang sering dipentaskan pada musim hujan dan setiap malam bulan purnama. 

Selain digunakan dalam upacara spiritual, tarian ini juga sering digunakan oleh para pemuda untuk mencari jodoh.

Karena Tari Padoa biasanya akan banyak diikuti oleh para pemuda dan pemudi, sehingga bisa menjadi sarana untuk saling mengenal.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Tari Padoa adalah tarian massal yang dilakukan oleh semua orang, baik pria maupun wanita.

Dalam pertunjukan Tari Padoa ini, biasanya para penari harus memakai pakaian adat dan juga dilengkapi dengan wadah anyaman di kakinya.

Wadah anyaman ini biasanya diisi dengan kacang hijau yang dipanen dari kebun. Selain berfungsi menghasilkan suara, konon setelah menari bijinya masih utuh bisa dipercaya kualitasnya bagus dan akan ditanam pada musim berikutnya.

Dalam pertunjukannya, biasanya dimulai dengan penari berbaris dalam 2 baris dan berjalan menuju arena yang dipimpin oleh seseorang yang membacakan puisi.

Dalam perjalanan menuju arena, para penari berjalan dengan gerakan tangan yang khas dan kaki yang menghentak seolah diseret sehingga wadah yang ada di kakinya akan mengeluarkan suara. Begitu berada di arena, mereka kemudian akan membentuk formasi satu putaran.

Dalam pertunjukannya, para penari biasanya mengenakan pakaian adat. Pada penari wanita biasanya menggunakan kain khas yang disebut Ei yang diikat di dada dan menutupi kaki.

Selain itu, para penari wanita juga dilengkapi dengan aksesoris seperti anting-anting, kalung, gelang, dan ikat pinggang perak.

Sedangkan penari pria biasanya menggunakan kain khas yang disebut higi huri yang diikatkan di perut dan ditutup sampai lutut.

Pada tubuh bagian atas biasanya akan menggunakan kain juga, namun dibuat selampang.

Sedangkan pada bagian kepala penari pria biasanya menggunakan dastar yang disebut willa hipora. 

Para penari baik laki-laki maupun perempuan akan menggunakan wadah berisi biji kacang hijau yang dipasang kemudian diikatkan di kakinya.